Cemas jikalau nanti ia tidak bisa menjawab pertanyaan, atau mungkin dia bisa menjawab tapi ia seperti tergagap saat ia menjawab. Apalagi ada beberapa bab yang hanya sekilas ia membacanya, semakin was-was saja rasanya.
”Prisa Abriana ” panggil salah satu mahasiswa yang baru saja keluar dari ruang kelas.
Seketika ia mendongakkan kepalanya, wajahnya benar-benar memucat seketika. Berdiri dengan pelan kemudian berjalan dengan gontai menuju kelas. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah sang dosen yang sedang membaca sebuah kertas sembari mengerutkan dahinya. Duduk gadis itu di depan Dosennya, sambil menunggu pertanyaan yang akan diberikan, ia menautkan jari jemarinya.
Seketika ia mendongakkan kepalanya, wajahnya benar-benar memucat seketika. Berdiri dengan pelan kemudian berjalan dengan gontai menuju kelas. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah sang dosen yang sedang membaca sebuah kertas sembari mengerutkan dahinya. Duduk gadis itu di depan Dosennya, sambil menunggu pertanyaan yang akan diberikan, ia menautkan jari jemarinya.
“Prisa Abriana ya?.”tanya sang Dosen, melihat dengan saksama wajah Mahasiswinya.
“Iya bu.” Jawab Prisa pelan.
“Jelaskan bagaimana sejarah kedatangan Jepang di Indonesia atau yang pada saat itu disebut Hindia
Belanda, dan kebijakan-kebijakan apa saja yang diberikan Jepang?.”
“Iya bu.” Jawab Prisa pelan.
“Jelaskan bagaimana sejarah kedatangan Jepang di Indonesia atau yang pada saat itu disebut Hindia
Belanda, dan kebijakan-kebijakan apa saja yang diberikan Jepang?.”
Diawali membaca Basmallah dengan lirih, ia kemudian mulai menjawabnya.
“Setelah Jepang menyerang pangkalan Militer di Pearl Harbour, Hawai, pada tahun 1941. Invasi
militer jepang cepat merambah ke kawasan Asia Tenggara. Pada bulan Januari-Februari tahun 1942. Jepang menduduki Tarakan (Kalimantan), Balikpapan, Pontianak, dan masih banyak lagi daerah-daerah yang berhasil diduduki oleh Jepang. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh orang-orang Hindia Belanda,karena Jepang mengatakan bahwa mereka adalah saudara tua Indonesia atau Hindia Belanda pada saat itu. Apalagi jepang membentuk Gerakan 3 A yakni Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia dan Nippon Pemimpin Asia. .......”
Prisa menjelaskan dengan terperinci pertanyaan yang diberikan, meski sedikit dengan tergagap. Nasib baik memang sedang berpihak kepadanya, karena entah karena apa tadi ia sebelum mendapat giliran tes lisan ia mempelajari sejarah kolonialisme jepang dengan matang.
Setelah Mahasiswa terakhir selesai tes lisan, dengan serentak Mahaiswa satu prodi berteriak “MERDEKA!!!.”mereka benar benar bergembira.
Sensasinya seperti Dewi Sinta yang terbebas dari belenggu Rahwana. Semester ini akhirnya mereka lewati, meskipun sebelumnya mereka harus melakukan penelitian, meresume Handbook Teori Sosial karangan George Ritzer dan Barry Smart yang tebalnya 1072 halaman. Selain itu juga tes mengajar, dan terakhir tes lisan mata kuliah Sejarah Indonesia. Benar-benar menguras emosi dan tenaga.
Sensasinya seperti Dewi Sinta yang terbebas dari belenggu Rahwana. Semester ini akhirnya mereka lewati, meskipun sebelumnya mereka harus melakukan penelitian, meresume Handbook Teori Sosial karangan George Ritzer dan Barry Smart yang tebalnya 1072 halaman. Selain itu juga tes mengajar, dan terakhir tes lisan mata kuliah Sejarah Indonesia. Benar-benar menguras emosi dan tenaga.
“Fida pulang yuk.” Ajak prisa tangannya menepuk pundak Fida.
“iya, lagian mendung takutnya nanti kita kejebak hujan.” Balas Fida.
Keduanya kemudian serempak berpamitan kepada teman-teman se Prodi “duluan ya semuanya.”
“iya, lagian mendung takutnya nanti kita kejebak hujan.” Balas Fida.
Keduanya kemudian serempak berpamitan kepada teman-teman se Prodi “duluan ya semuanya.”
“hati-hati ya pris, takutnya nanti kamu ketemu perampok.” Celetuk Haidar
“eh, do’a kamu jelek banget, kayaknya belum pernah ngerasain di cium banci ni anak.” Tukas Lidia.
“wih santai lid, kalimatnya tadi belum selesai. Makanya jangan suka memotong pembicaraan orang lain, biar nggak salah faham. Maksudnya tadi itu perampok hati si Prisa, gitu.”
“eaaaaaaa.” Koar mereka. Prisa dan Fida kemudian segera berjalan menuju parkiran, diiringi dengan siulan-siulan teman-teman mereka.
Prisa mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, karena Prisa sangat tahu bahwa Fida phobia dengan kecepatan tinggi. Ketika berada di jalan yang jauh dari pemukiman sepeda motor prisa tiba-tiba terhenti.
“kenapa Pris kok tiba-tiba berhenti?.” Tanya Fida bingung.
“Aku sendiri juga nggak tahu fid, tiba-tiba saja mesinnya mati. Kenapa ya.?” Jawab Prisa lalu turun dari sepeda motornya.
Keduanya benar-benar kebingungan, rumah masih jauh apalagi mereka tidak mengerti sama sekali mengenai mesin sepeda motor. Didaerah ini selain jauh dari pemukiman juga jarang dilewati kendaraan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang akan melewati mereka, keduanya berdiri hendak melambai untuk meminta bantuan. Namun tak sesuai dengan ekspetasi mereka, mobil itu melesat dengan cepat melewati keduanya. Prisa menunduk dengan lesu.
Tak disangka-singka mereka mendengar suara sepeda motor, dan sepeda motor itu berhenti didekat mereka.
“Sepeda motornya kenapa mbak.?” Tanya seseorang, otomatis keduanya memandang ke arah suara tadi. Ternyata seorang laki-laki, tak luput ia melepas helm nya.
“nggak tahu ini mas, tiba-tiba saja mesin motornya gak bisa di nyalain.” Jawab Fida
“coba saya lihat dulu ya mbak.” Ujar laki-laki tadi sembari meletakkan ransel dan helm nya diatas jok sepeda motornya. Lama laki-laki itu berkutat pada sepeda motor Prisa, namun tak masih tetap tidak bisa menyalakan mesinnya.
“sepeda motor mbak ini kenapa ya sebenarnya.?” Keluh laki-laki itu, tangannya mengusap peluh yang ada didahinya.
“mas aja nggak tahu, apalagi saya.?” Kata Prisa.
Tangan laki-laki itu membuka tutup tangki, dan yang terjadi selanjutnya ia membuang nafas dengan kasar
“mbak ini bahan bakar nya abis, pantesan nggak bisa dihidupin mesinnya.”
“ya ampun iya, aku tadi lupa beli.” Prisa menepuk dahinya lalu memandang laki-laki itu dengan segan.
“lain kali jangan teledor mbak.” Sarkasnya lalu menuju sepeda motornya “bentar ya mbak aku cariin bensin dulu, disini kan jauh dari pemukiman.”
Sekitar 10 menit menunggu akhirnya laki-laki itu tiba, dengan tangan kiri yang membawa botol bensin. Sungguh Prisa dan Fida merasa sangat malu sekali kepada laki-laki itu. Keduanya mengira sepeda motornya ada kerusakan disalah satu mesinnya, ternyata karena kehabisan bahan bakar.
“mas terima kasih banyak udah mau bantu kami, oh iya berapa uangnya tadi.?”prisa mengatakannya sambil menunduk tak luput ia membuka resleting tasnya.
“nggak usah mbak.” Jawab laki-laki itu dan menaiki sepeda motornya bersiap untuk pulang.
“lho!, tapi mas.” Prisa berjalan menuju laki-laki itu.
“udah nggak apa-apa. Pesan saya, lain kali jangan sampai teledor kembali.” Nasihatnya, memakai
helm full face nya lalu menghidupkan mesin sepeda motor. Memandang ka arah Fida dan Prisa, membunyikan klakson dan akhirnya hanya tinggal suara sepeda motornya yang semakin lama semakin tak terdengar.
-Bersambung-
-Bersambung-
