Siang itu prisa berada diperpus kota, ia tengah duduk-duduk sembari membaca salah satu novel karangan Boy Candra. "tok tok tok" tiba-tiba ada yg mengetuk mejanya. seketika ia menghentikan kegiatan membacanya dan memandang tangan yang tadi mengetuk mejanya, kemudian pandanganny beralih kepada wajah si pemilik tangan itu tadi.
Dan blusssh. wajahnya memerah seketika, tak lain dan tak bukan itu adalah laki-laki yang menolongnya kemaren. prisa rasanya benar-benar ingin menenggelamkan dirinya saat itu juga. kejadian kemaren masih belum pudar dari memori otaknya, sekarang dirinya malah bertemu dengan laki-laki itu. laki-laki yang membuatnya malu setengah mati.
"boleh saya duduk di sini?". tanya laki-laki itu dengan pandangan yang tak beralih dari wajah prisa.
"iya silahkan". ujar prisa pelan, tapi kepalanya malah menunduk.
hening beberapa saat, tidak ada yang berinisiatif untuk membuka percakapan. laki-laki itu mulaimembuka buku yang barusan ia ambil dari rak-rak, dan prisa melajutkan kegiatan membacanya. kesunyian benar-benar berpendar diantara keduanya. tiba-tiba laki-laki itu menghentikan kegiatan membacanya dan menutup bukunya.
" mbak, namanya siapa?". yang ditanya malah diam, Prisa menghentikan kegiatan membacanya. Tapi ia pura-pura tengah membaca.
"mbaaaak". laki-laki itu sejurus kemudian melambaikan tangannya di depan wajah prisa."mas bicara sama saya?". ucap prisa dengan tampang yang terlihat bingung.
" iya anda, kan di meja ini hanya ada saya dan mbak. berarti sudah jelas jika barusan saya bertanya kepada mbak". tukas lelaki tersebut dengan maha emosi, namun ia masih mampu menyembunyikannya.
prisa agak riskan, dari dua kali pertemuan dengan lelaki ini ia selalu mempermalukan dirinya. prisa menutup novelnya, lalu berdehem dengan pelan.
"nama saya prisa,lengkapnya prisa Abriana". tak luput ia menarik kedua sudut bibirnya.
"kalau mas sendiri namanya siapa". prisa balik bertanya. lelaki itu kemudian malah menunduk, dan diam. prisa bingung kenapa lelaki itu tak menggubrisnya. bukankah lelaki itu yang mengajaknya mengobrol, tapi sekarang ia malah diam.
"nama saya Edgar. Edgar Pramana". ucap lelaki itu ketika prisa akan beranjak dari situ, bersamaan dengan itu ponselnya mendapat notifikasi WA.
MAMA :kalau kamu nggak pulang mama coret dari kartu keluarga.
secepat kilat ia segera berdiri, lalu berpamitan kepada prisa
"prisa, saya duluan ya". dan berjalan ia dengan agak tergesa. akhirnya hanya tersisa prisa dengan kebingungannya
~••••••••~
lelaki itu membuka pintu dengan sangat pelan, seolah-olah ia adalah pencuri. melakukan hal demikian karena ia tahu pada hari-hari libur seperti ini pasti para perusuh itu ada dirumahnya. maka secepatnya ia menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
"oma, opa, ci yani. om Edgar pulaaaaang". teriak gadis kecil. yang tak lain adalah perusuh yang ia hindari. Menghembuskan nafas dengan kasar, ia pun kemudian berhenti. Mau tidak mau perusuh ini harus ia hadapi dengan lapang dada. Menoleh dengan pelan, kemudian menarik kedua sudut bibir selebar mungkin. Gadis kecil itu berlari dan menghambur dipelukan Edgar.
“Yasmin kangen banget sama om, berapa hari kita nggak ketemu om?.” Tangan gadis kecil itu memeluk Edgar dengan erat.
“ya iyalah, mana mungkin yas nggak kangen sama orang keren kayak om”. Ujar Edgar dengan penuh percaya dirinya.
“masih kerenan juga si Alex dari pada om!.” Sarkas Yasmin.
“siapa Alex?.”
“temen aku om. Eh om, beberapa hari ini aku les bahasa Mandarin sama bahasa Inggris. Yas udah hafal bahasa Mandarin sama bahasa Inggrisnya angka satu sampe sepuluh.” Terang gadis kecil itu, tangannya mengurai pelukannya pada Edgar.
“mana coba om pengen dengar.”
“one, two, three, six “.
“kok six, six kan artinya enam.” Potong Edgar.
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya, kemudian dia berpaling dari hadapan Edgar dan melipat tangan di atas dada. Jujur saat itu juga Edgar ingin tertawa terbahak-bahak dengan kejadian saat ini. Sudut bibirnya sudah tertarik sedikit, namun ia berusaha menahannya. Karena jika sampai ia melepaskan tawanya, otomati perusuh ini akan menangis dengan sangat kencang.
Dan yang akan terjadi selanjutnya adalah, dia akan mendapat khutbah di siang bolong. Ia kemudian mendekati gadis kecil itu dan berlutut ia kemudian mendekati gadis kecil itu dan berlutut dihadapannya.
“kan itu tadi belum selesai yasmin, kok tiba-tiba berhenti.”ucap Edgar dengan lembut“Yas nggak pandai bahasa Inggris!.”lirihnya hampir menangis sambil menundukkan kepala.“kalau gitu coba yang bahasa Mandarin, om pengen tau.” Dengan suara pelan Yasmin mulai mengucapkannya.“ling, yi, er, liang, san, si, wu, liu qi, ba, jiu, shi.” wajahnya menunduk.
Edgar kemudian merengkuh yasmin kepelukannya, kemudian tangan kanannya mengelus rambut gadis kecil itu dengan sayang
" pandai juga ternyata ponakan kecilku ini".yasmin mengangkat kepalanya, lalu tersenyum selebar mungkin dihadapan Edgar.
"iya dong, yasmin kan emang pandai, cantik, baik pula" angkuh gadis kecil itu sembari menepuk dadanya dengan tangan kanannya.
Rasanya Edgar ingin membenturkan kepalanya ke dinding. kenapa ia bisa memiliki ponakan semacam ini. kira-kira keponakan antik macam ini kalau di jual di tokopedia laku berapa ya kira-kira?
"udah pulang ternyatabkamu Ed". spontan Edgar mengalihkan pandangannya ke arah sipemilik suara tersebut. dan tak lain itu adalah mamanya. ia kemudian melepaskan pelukannya lalu berdiri dang menghampiri mamanya
"udah kok ma". jawabnya dengan senyum yang dipaksakan, lalu mencium tangan ibunya.
" padahal mama udah mau berangkat ke Dispenduk buat nyoret nama kamu dari kartu keluarga". mamanya berkara dengan sinis.ketika suasana hening sesaat, tiba-tiba ada suara lembut yang menyapa Edgar.
"mas Edgar".
Edgar sudah sangat mengenal siapa pemilik suara ini. seseorang yg dulu mewarnai hari-harinya, namun sekarang ia benar-benar malas bertemu bahkan mendengarkan suaranya. wajah Edgar seketika terlihat sangat muram. dia adalah Siska, mantan calon istrinya
"Ngapain wanita ini kesini!". ucap Edgar dengan nada yang sangat menusuk, kemudian berlalu dari situ dan berjalan menuju kamarnya. Namun tidak lebih dari lima langkah Edgar berjalan, Siska menyusulnya dan menarik lengan edgar.
" Mas Edgar, Siska mau berbicara berdua saja dengan mas". pinta Siska dengan suara khasnya. Lembut.
Refleks Edgar menghempaskan cekalan tangan Siska secara kasar. menolehkan wajahnya ke arah Siska, namun dengan pandangan yang seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"aku nggak ada waktu untuk berbicara hal apapun denganmu". Bentak Edgar.
"Edgar! jaga sikap dan cara bicaramu, jangan menyamakan dirimu dengan para preman pasar. apa kamu tidak ingat kamu berpendidikan tinggi?, dan juga apa kamu lupa dengan gelar M. Pd dibelakang namamu itu." cecar mamanya panjang lebar.
Ketegangan yang akhirnya berpendar diudara. tak ada seorangpun yang berkeinginan untuk mengeluarkan suara. Bahkan si kecil yasmin pun dengan perlahan mencari tempat persembunyian, takut dengan suasana ini. tak lama kemudian Edgar kembali melangkahkan kaki menujur kamarnya. sedangkan Siska kemudian menghampiri mama Edgar dan memeluknya sambil terisak-isak. mengetahui hal ini Edgar berhenti
" Edgar akan ceritain semuanya kepada mama"mendengarkan perkataan itu, Siska seketika menghentikan tangisannya. mengurai pelukannya dari mama Edgar, dan mengusapi kedua pipinya yang basah. ia tak berani memandang Edgar pun jua mama Edgar. ketakutan itu mulai menyelusup kedalam dirinya, mendadak wajahnya menjadi pucat pasi.
" Tante, Siska mau pamit pulang dulu". mencium tangan mama Edgar dan bergegas pergi.
belum sempat mama Edgar menjawabnya,
Siska sudah benar-benar pergi dari pandangan mereka. tak pelak Edgar juga bergegas menuju kamarnya. sesampainya disana, ia segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjang lalu memandang langit-langit kamarnya. ketika ia sudah hampir terbawa oleh mimpi, ketukan pintu menariknya kembali ke alam sadar.
"yani boleh masuk?". ucap seseorang dari luar pintu,
Edgar hanya berdehem. tak menunggu lama ia pun masuk kedalam kamar Edgar, selanjutnya perempuan itu ikut rebahan di samping Edgar
"kenapa bang Ed nggak ceritain aja semuanya ke mama, biar dia tau rasa!". sengit yani, yang tak lain adalah adik Edgar." nggak penting sama sekali". memandang yani sambil tersenyum." ya pentinglah bang, biar mama tau kalau dia itu wanita bejat".
"dari pada mikirin wanita itu yang bikin kamu emosi, mending kamu kerjain Skripsi kamu yang nggak kelar-kelar. katanya udah nggak sabar mau nikah sama si Aldo, ". ucap Edgar dengan nada yang kentara sekali mengejek.
"Andaikan Bang Edgar adalah Dilan, pasti bakalan ngomong gini ke yani. Skripsi itu berat, kamu nggak akan kuat, biar aku saja"Edgar memutar bola matanya jengah, ia lalu membelakangi yani. tak lama kemudian nafasnya sudah teratur, ia terlelap tidur.
-Bersambung-
Share untuk mendukung karya kami
