Pagi menyapa, sang mentari pun mulai keluar dari peraduannya. Seolah begitu bersemangat untuk memulai kehidupan baru setelah ia menumpahkan segala lelahnya diperaduan malam yang panjang.
Hiruk pikuk kesibukan para santri mulai terlihat disetiap sudut asrama. Nampak seorang gadis yang tengah muroja'ah didalam kamar, ia seperti tidak menghiraukan kesibukan-kesibukan yang ada.
Ya, gadis itu bernama Anis, dia adalah sosok yang pendiam dan juga pemalu. Wajar saja karena sikapnya itu membuatnya tidak begitu dikenal dan juga mengenal. Ia pun hanya memiliki satu sahabat dekat yang bernama Ziyya, gadis yang periang dan mudah bergaul dengan semua kalangan.
"Mbak temenin aku beli kitab!" Kata Ziyya yang sudah berada disamping Anis.
"Emoh lah mbak, bukane wingi wes bar tumbas." Jawab Anis sambil meletakkan Al-Qur'an keatas lemari.
"Iya, tapi itukan udah kemarin, sekarang aku pengen liat-liat kitab lagi kalo jodoh ya langsung tak beli."
"Emmm tapi... Emoh mbak, isin ntar malah ketemu santri putra." Jawab Anis.
"Ya Allah, mbak Anis sayang. Ya kalo emang ketemu berarti itu rezeki kita, nggak papa lagi sekali-kali buat cuci mata. Masak iya tiap hari yang dipantengi kitab mulu. Udah hitung-hitung itu refreshing." Jelas Ziyya puanjang kali lebar.
"Astaghfirullahaladzim mbak, berarti ndak ikhlas sampean mondok disini. Atau jangan-jangan tujuanne sampean mondok muk arep e mantengi cah putra yo." Balas Anis dengan tatapan curiga.
"Ancen nek ngandani wong kelewat cerdas ki uangel. Uwes lah mbak ayo, sekalian tak beli peralatan mandi."
"Sabun cuci ku habis e mbak." Kata Anis sambil ngecek peralatan mandinya.
"Ya nanti sekalian tak tumbas ne. Tak traktir wes." Kata Ziyya mulai membujuk Anis.
"Temenan mbak sampean?"
"Iyo, tapi sekalian bajuku sampean cucine." Canda Ziyya.
"Emoh mbak."
"Ya uwes ayo." Kata Ziyya sambil menarik lengan Anis.
Anis berjalan menjajari Ziyya, mereka pergi ke koperasi pondok untuk membeli kitab dan peralatan mandi. Hampir 15 menit Ziyya belum juga menemukan kitab yang ia cari dan juga belum membeli satupun peralatan mandi. Sedang Anis sudah mulai gelisah, khawatir kalo nanti ketemu kang-kang santri.
"Mbak Ziyya, ayo lah mbak cepetan."
"Iya mbak, ini udah kitabnya. Mbak mau sabun cuci yang mana?" Tanya Ziyya pada Anis.
"Apa aja deh mbak, yang penting bisa buat nyuci." Jawab Anis.
Setelah membayar Anis dan Ziyya kembali ke asrama. Saat mereka akan melewati rumah kyai atau yang biasa disebut ndalem, ada dua orang pria yang tengah berdiri dihalaman.
"Mbak, cari jalan lain aja ya!" Ajak Anis pada Ziyya.
"Jalan lain mana, tuh orang sudah liat kita masak kita balik arah kan malu to mbak." Jawab Ziyya dan terpaksa Anis pun mau lewat didepan laki-laki itu.
"Itu Gus e lo mbak Anis, jarang banget beliau pulang. Biasanya juga dipondok."
"Lha emang e Gus e mondok dimana mbak?" Tanya Anis.
"Nggak tau." Jawab Ziyya singkat.
"Gus iku aneh ya mbak. Wes nduwe pondok sik mondok nyang pondok liyo." Kata Anis lagi.
"Ya mungkin ben ra dadi wong sombong mbak. Dan saiki dadi rezekinya kita lo mbak."
"Awas mbak mripat e." Kata Anis sambil nyubit pinggang Ziyya.
Saat melewati Gus dan kang santri itu mereka nampak sedikit membungkukkan badan tanda menghormati beliau dan juga memberi salam.
"Assalamu'alaikum."
"Waallaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh. Dari mana mbak?" Tanya Gus e.
"Dari koperasi, Gus." Jawab Ziyya.
Ziyya sedikit bercakap-cakap dengan gus e sedang Anis hanya menunduk tidak berani menatap kearah gus dan kang santri itu.
"Mbak Ziyya kok jarang bantu-bantu ummi di ndalem sekarang?"
"Inggeh gus, ciros e ummi leren sik bantu-bantu ne." Jawab Ziyya.
"Owalah."
Anis sedari tadi menarik-narik lengan Ziyya tanda untuk mengajaknya segera pergi.
"Ya sudah gus kami permisi. Assalamu'alaikum." Pamit Ziyya.
"Waallaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh."
Anis nampak berjalan-jalan terburu-buru.
"Mbak Anis jangan cepat-cepat jalan ne." Kata Ziyya.
Anis tidak menghiraukan ucapan Ziyya, dan.....
"Awas mbak rok e nyangkut, nek kesrimpet.!" Triak kang santri dan gus e.
Bersambung.
Nama penulis : Giarti Rahmawati
Email : gigikrohmah@gmail.com
Facebook: GikRohmah
Judul cerbung : Hilangnya Kitab Kang Santri
Kategori Cerbung : Cerbung islami cerbung fiksi.
Profil penulis :
Nama: Giarti Rahmawati
Panggilan :Gigik
Tempat tanggal lahir : 30 Mei 2001
Tempat tinggal : Pacitan Jawa Timur.
Sekolah : Pondok Pesantren Al Fattah Tahunan Tegalombo Pacitan.
- Home
- Cerbung Islami
- Hilangnya Kitab Kang Santri part 1 - Oleh Giarti Rahmawati
