Karena Cinta - Oleh Giarti Rahmawati

"Mas Birru, niki kopine." Kataku sembari menyuguhkan secangkir kopi dihadapan suamiku.

Aku Asyifa Qolby gadis yang telah menikah diusia yang masih terbilang cukup muda. Yakni diumur yang baru saja menginjak 21 tahun. Aku menikah atas dasar kemauan ku sendiri, karena aku berpikir sehabis menikah hanya akan ada kebahagiaan-kebahagiaan yang menyelimuti tanpa sedikitpun nestapa duka. Namun aku salah, aku tidak sekuat tebing yang mampu menahan terpaan air bah dan banjir.

Hatiku tidak cukup kuat, kala suamiku bersikap dingin, tidak seperti diawal pernikahan. Hatiku tidak cukup kuat, kala suamiku bersikap seperti tidak peduli bahkan acuh tak acuh padaku. Aku tidak cukup kuat kala harus bersandiwara didepan orang tua dan anak-anak ku.

Suamiku Maulana Birru Walidain laki-laki dambaan semua wanita yang telah mampu aku taklukan, laki-laki yang sempurna yang telah bertahta di kerajaan hatiku. Aku berpikir dengannya aku akan menghabiskan waktu hingga hari tua. Dengannya aku akan mengarungi samudera cinta. Mimpi dan khayalan ku seakan sirna karena perlakuannya yang sangat dingin akhir-akhir ini.

"Ayah, nanti pas acara sekolah Nadira, Ayah sama Bunda datang ya,!" Kata Nadira gadis kecil buah hati ku dengan mas Birru.
Hening, tiada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mas Birru. Ia terus saja fokus dengan nasi goreng yang ada dipiringnya.

Aku benci mas Birru, tidakkah ia bisa memprioritaskan Nadira, anak satu-satunya. Tidakkah ia bisa membuat Nadira bahagia.

Mas Birru pergi begitu saja tanpa sedikitpun berpamitan kepadaku.

Mas, tidak ingatkah engkau saat awal-awal  pernikahan kita. Setiap engkau pergi engkau tidak pernah lupa mengecup keningku.
Kenangan manis terlintas di benakku hingga tiada terasa butiran kristal bening mulai mengembang dipelupuk mataku.

Mungkinkah ada orang ketiga diantara aku dan mas Birru. Tidak, aku tidak boleh berprasangka buruk kepada suamiku. Mas Birru tidak sejahat itu.

Senja memerah. Langit sajikan semburat jingga yang berkobar dibatas horizon. Sesaat lagi malam akan menebarkan keremangan yang membaur bersama nafas kesunyian. Namun tidak ada tanda-tanda mas Birru akan pulang.

Perlahan alam mulai melepaskan diri dari jeratan hari , seakan jemu menimbun lelah. Bumi mulai meredupkan kehidupan, aroma sepi pun kian menyebar.

Dimana mas Birru, semilir angin pun tiada mau memberikan kabar hatiku. Hatiku yang mulai gelisah.
Titik-titik hujan mulai membasahi bumi yang semakin gelap. Nadira sudah tertidur sedari tadi, dan mas Birru sama sekali belum pulang.

Ini lain dari biasanya, meski sikapnya yang dingin mas Birru tidak pernah meninggalkan sholat Maghrib dan isya' berjamaah dengan ku. Namun hari ini hingga tengah malam mas Birru belum kunjung pulang.
Berkali-kali aku menghubunginya, sama sekali tiada jawaban.
Perang batin mulai gemuruh dihatiku, antara khawatir dan curiga.

Klunting.
Ada pesan WA yang masuk ke hp ku, secepat kilat kuraih hpku, berharap bahwa itu adalah suamiku, mas Birru.
Tubuhku terasa lemas, kakiku terasa berat untuk menopang tubuh ini. Mataku kunang-kunang, saat kudapati mas Birru duduk bersanding dengan wanita cantik dipelaminan. Mas Birru memaduku bahkan tanpa sepengetahuan ku. Aku menangis sejadi-jadinya, Tiidaaakk.....

Bruuukkk.. tubuh ku jatuh tersungkur dilantai,

"Astaghfirullahaladzim Ya Allah, mimpi pertanda apa ini? Apa yang tengah dilakukan mas Birru diluar sana?"

Hangat nya mentari kembali menyapa kala ufuk timur mulai menggoreskan cahaya terang. Seperti biasa, aku menyiapkan sarapan pagi untuk Nadira dan mas Birru. Meski sampai sekarang mas Birru belum kunjung pulang.

Tok..tok.. suara pintu terketuk. Berharap yang datang adalah mas Birru, suamiku ayah dari anak-anak ku, Nadira dan bayi yang sedang ada didalam kandunganku. Sedingin apapun sikapmu yang sekarang kamu tetaplah malaikat hidupku kamu tetaplah laki-laki sempurna idaman semua wanita.

"Loh ibu." Kataku saat yang datang adalah mertua ku.

"Iya sayang." Suaranya nampak parau, beliau memeluk ku dan menangis sejadi-jadinya dipundak ku. Apa yang terjadi? Sungguh aku tidak bisa menafsirkan sikap mertuaku itu.
Aku biarkan mertuaku menumpahkan tangisnya tanpa aku sela dengan pertanyaan mengapa beliau menangis sampai beliau mau menceritakan sendiri apa masalahnya.

"Ziya, maafkan Maulana. Maafkan anak ibuk nduk." Katanya sambil terus menangis.

Beribu tanya memenuhi sudut otakku. Namun aku tidak mampu menanyakan apa pun. Mungkinkah mas Birru benar-benar mau mentholaq ku. Apakah mas Birru sudah bosan dengan ku, tidakkah dia tau aku sedang mengandung anaknya, darah dagingnya.

"Ini surat dari Maulana nduk, sebelum dia pergi." Ibu mertuaku menyerahkan amplop berisi surat dari mas Birru.

Pergi kemana mas Birru, mungkinkah semua dugaanku benar. Perlahan ku buka amplop berwarna merah hati, itu warna kesukaan ku. Dengan hati berdebar-debar ku baca kata demi kata yang dirangkai indah. Surat yang berisi..

Teruntuk kamu wanita surgaku, istri tercintaku.

Maafkan aku yang telah merubah sikap hangatku.
Maafkan aku yang tak pernah lagi menemanimu melihat senja kesukaan mu.
Maafkan aku yang tidak akan pernah bisa menemani Nadira lagi. Untuk acara sekolah nanti. Ziya sayang maafkan aku, sungguh aku tidaklah membencimu justru aku mencintaimu. Maafkan aku jika akhir-akhir ini aku bersikap dingin padamu. Semua itu aku lakukan karena cintaku padamu. Maafkan aku yang telah menyembunyikan penyakit yang selama ini aku derita. Aku tidak ingin kamu sedih, jika kamu mau membenciku karena ku telah membohongi mu tak mengapa Ziya.
Ziya aku pergi, titip Nadira dan anak yang ada dikandunganmu. Cintai mereka sebagaimana cintamu kepadaku.

Suamimu Maulana Birru Walidain.

Air mataku tak dapat aku lagi bendung, suamiku bukan membenciku suamiku tidak bosan pada ku suamiku mencintaiku.

Bagaimana bisa aku dapati kehangatan mentari jika sang Langit Biru telah pergi.

Bagaimana bisa aku bercengkrama dengan senja jika hanya mendung kelabu yang ada.

Mas Birru bagaimana dengan rinduku, rindu yang semakin menggebu.

Mas Birru terimakasih atas kisah yang pernah terlukis bersama. Aku tidak akan pernah mencari pengganti dirimu.

Tunggulah aku, kini aku sedang memperjuangkan mu lewat do'a-do'aku, berharap Tuhan
mentaqdirkan kita bersatu disurga-Nya nanti. Aamiin.

The end


Profil penulis.

Nama: Giarti Rahmawati
Panggilan: Gigik
Tempat tinggal: Pacitan Jawa Timur.
Sekolah: PIP Al Fattah Tahunan.
Cita-cita: Pengen jadi penulis

Kontak

Facebook : Giarti Rahmawati
Email : gigikrohmah@gmail.com